Rabu, September 17, 2008
Selasa, September 16, 2008
Catatan KKJ: Pemeriksaan Fisik Thorax (Perkusi)
Pada PD Thorax dengan cara perkusi, mulailah dengan mengadakan perkusi perbandingan di infraclavicula kiri dan kanan untuk mengetahui pegangan nada sonor pada pasien. Langkah selanjutnya adalah: a. Kemudian lakukan perkusi batas paru-hati pada lin. mid.clavicularis kanan, sebagai berikut: Tentukan batas paru hati relatif (perkusi dari atas ke bawah hingga suara sonor berubah menjadi sonor memendek, biasanya pada ICS V). Tetukan juga batas paru hati absolut (diteruskan perkusi ke bagian bawah hingga suara sonor memendek berubah menjadi beda, biasanya pada ICS VI). Lalu tentukan besarnya peranjakan batas paru hati absolut (pasien diinstruksikan untuk bernafas, maka perkusi beda akan menjadi sonor memendek dan sonor memendek akan menjadi sonor). b. Lakukan perkusi paru secara keseluruhan untuk mengetahui perbandingan tinggi nada paru (atas-bawah, kiri-kanan). Tentukan juga apakah ada nyeri tekan pada saat melakukan perkusi thorax dan dimana lokasinya. c. Lakukan perkusi jantung: menentukan batas jantung relatif kiri, kanan dan atas. Batas jantung atas relatif (lakukan perkusi dari ICS I kiri hingga kebawah, nada sonor akan berubah menjadi sonor memendek,normalnya pada ICS III), Batas jantung kanan relatif(lakukan perkusi ICS kanan dari atas ke bawah hingga nada sonor menjadi sonor memendek, lalu kembali ke satu ICS diatasnya/sonor. Lakukan perkusi ke kiri perlahan hingga nada sonor menjadi sonor memendek, normalnya di lin. parasternalis kanan/1-2 jari di midsternalis), Batas jantung kiri relatif (tarik garis khayal ke kiri setelah menemukan nada sonor pada pemeriksaan batas jantung kanan relatif. Lalu dari lin. midaxila kiri lakukan perkusi perlahan ke kanan hingga nada sonor menjadi sonor memendek, normalnya pada satu jari lin.mid.clavicula/ICS IV-V). Untuk batas jantung absolut, letaknya kira-kira dua jari di dalam batas jantung relatif, perkusi perlahan terjadi perubahan dari nada sonor memendek menjadi beda (tapi ini susah lo....butuh konsentrasi tingkat tinggi!!!! kata dr.LILI)
Catatan KKJ: Pemeriksaan Fisik Thorax (Palpasi)
a. Mengetahui adakah nyeri tekan/tidak?cari tahu dimana lokasinya.
b. Bagaimana gerakan pernafasan kiri dan kanan?Seluruh telapak tangan diletakkan pada permukaan thorax. Kemudian dirasakan gerakan pernafasannya, apakah simetris kiri dan kanan. Adakah gerakan tertinggal dari salah satu paru? Kemudian dilakukan juga pemeriksaan sten fremitus dengan meyuruh pasien mengucapkan tujuh puluh tujuh dan vibrasi/getaranya dirasakan pada kedua telapak tangan yang diletakkan di dada pasien.
c. Lakukan palpasi khusus pada jantung, tentukan dimana letakknya ictus pada lin. midclavicula dan pada sela iga berapa.
Catatan KKJ: Pemeriksaan Fisik Thorax (Inspeksi)
a. Persilahkan pasien untuk membuka pakaian atas hingga seluruh bagian dada terlihat;
b. Pemeriksa berdiri pada arah kaki pasien dan sebelah kanan pasien; c. Perhatikan apakah dada pasien simetris (kiri dan kanan sama) /tidak;
d. Perhatikan apakah dada pasien fusiformis (diameter anteroposterior <>
e. Perhatikan payudara pasien, apakah letak papila mammae setentang kiri dan kanan?, apakah terjadi penarikan/retraksi papille mammae? apakah pada pasien pria terdapat ginecomastia yang menyebabkan turunya papila mammae?, Apakah ada ruam-ruam kulit/spider nevi?
f. Perhatikan tipe pernafasan (pd pria: Abdominothorakal, pd wanita: thorakoabdominal), perhatikan gerakan pernafasan/penarikan otot-otot dada (normal: superolateral), perhatikan apakah pernafasannya simetris atau adakah bagian tertinggal dari rongga dada?, hitung frekuensi pernafasan (normal:16-24 kali permenit);
g. Inspeksi ictus jantung: perhatikan adanya tendangan pada dada kiri (Normal: 1 jari medial midcalvicularis ICRIV/V). Ictus adalah daerah proyeksi jantung paling lateral dan bawah merupakan suatu tendangan dari jantung bagian ventrikel kiri pada dinding thorax pada masa kontraksi). Ada beberapa macam ictus, yaitu: 1. Ictus + : normal, yaitu: terjadi sinkronisasi pulsasi ictus dengan sistole dibuktikan dengan perabaan pulsasi a. radialis/a.carotis. 2. Ictus - : patologis, yaitu: tidak terjadi sinkronisasi pulsasi ictus dengan sistole dibuktikan dengan perabaan pulsasi a. radialis/a.carotis. 3. Ictus tidak ada artinya: normal pada orang gemuk dan patologis pada kelainan paru dan dinding thorax; 4. Ictus angkat kuat: orang kurus, kelainan patologis pada jantung, fungsi jantung bertambah (thyrotoxicosis) 5. Ictus melebar: getaran ictus meluas pada daerah sekitarnya.
Jumat, Agustus 01, 2008
Curhat-Revolution-ing

Sabtu, Juli 26, 2008
Temukan Sensasi Baru dari ‘Psychodrama’

(Ditulis oleh Desby Juananda, Mahasiswa Fakultas Kedokteran USU Semester VI)
Semakin berkembangnya kemajuan teknologi yang disertai dengan adanya ledakan informasi menuntut suatu bentuk transfer informasi yang mampu memenuhi kebutuhan tersebut dan tetap berbasis aplikatif. Penyampaian ide/gagasan berupa teori semata dinilai kurang cukup memberikan “kesan” bagi seseorang sehingga implementasi yang diharapkan dari proses transfer informasi tersebut tidak maksimal. Training (pelatihan) lahir sebagai solusi yang dinilai mampu menjawab permasalahan tersebut. Beberapa teori yang disampaikan melalui berbagai bentuk diskusi akan terefleksikan melalui training. Sehingga implementasi yang diharapkan setelah memperoleh pengetahuan baru dari sebuah diskusi bisa dirasakan langsung.
Berbagai bentuk training telah ditawarkan sebagai solusi dalam penyampaian sebuah materi. Pertanyaannya, apakah metode training yang paling ideal ? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, terlebih dahulu kita harus mempertimbangkan tujuan dan sasaran dari training yang diadakan. Hal ini terkait dengan siapa yang akan menjadi trainee dan apakah keluaran yang diharakan (expected outcome) setelah mengikuti training tersebut. Metode training yang ideal adalah bila memperhatikan kedua hal ini. Artinya sebuah training harus tepat tujuan dan tepat sasaran. Dengan mempertimbangkan kedua hal tersebut apapun bentuk training yang dilakukan akan dapat dikatakan ideal.
Dengan tetap mempertimbangkan 4 (empat) dasar dalam sebuah pelatihan, yakni partisipasi, refleksi, generalisasi dan aplikasi lahirlah berbagai bentuk/konsep pelatihan. Partisipasi, dimaksudkan untuk menyampaikan berbagai konsep/teori yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan kemudian mengajak trainee untuk sama-sama mewujudkan sebuah tujuan besar dari pelatihan yang dilakukan. Setelah penyampaian teori tersebut, trainee diberikan pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk membuka pandangan trainee agar mampu menemukan sendiri solusi kunci dari permasalahan yang ada. Selain itu, hal tersebut juga ditujukan untuk memancing antusias dan minat trainee untuk mengikuti training. Inilah yang dikenal dengan tahap refleksi. Selanjutnya, sampai pada tahap generalisasi, yaitu trainee akan menyampaikan hasil dari diskusi-diskusi yang telah dilakukan dan merumuskannya sebagai suatu bentuk simpulan umum. Tahap ini diakhiri dengan sebuah bentuk aplikasi, yaitu trainee diharapkan mampu mengaplikasikan apa yang diperolehnya dalam training dan bermanfaat dalam pengembangan kapasitas pribadinya serta orang-orang disekitarnya.
Belajar dari pengalaman (experiental learning) dinilai mampu memenuhi 4 (empat) kriteria tersebut. Belajar dengan metodologi experiental learning memberi kesempatan seseorang untuk lebih mengembangkan keahlian yang dimilikinya sekaligus untuk memperoleh feedback segera dari pelatihan yang diberikan. Hal ini dilatarbelakangi oleh kurang mampunya pelaksanaan pelatihan yang hanya terfokus pada teori/materi memberikan hasil yang maksimal dan berkesinambungan. Konsep belajar dari pengalaman adalah sama dengan belajar dari kehidupan sehari-hari. Bila kita mengibaratkan kehidupan sebagai ‘panggung sandiwara’ dan kita sebagai pelakukanya adalah aktor/aktris yang akan memerankan drama tersebut, maka inilah gambaran sederhana dari sebuah Psychodrama.
The Moreno Collegium for Human Centered Learning, Research and Development mengembangkan metode psychodramatic. Metode ini dimaksudkan untuk membantu trainee menemukan cara untuk mengembangkan potensi yang dimiliki, sehingga bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, organisasi dan masyarakat. Training ini dimaksudkan untuk memberikan keahlian (skills) dalam menghadapi “drama” kehidupan dan dilema-dilema yang dihadapi sehari-hari dengan percaya diri, kreatif dan spontan. Setiap trainee dapat berperan sebagai sutradara, aktor/aktris atau penonton sekalipun. Artinya, semua trainee akan terlibat langsung dalam dinamika yang disusun dan memiliki perannya (role) masing-masing. Spontanitas, daya logika/penalaran, kreatifitas dan kemampuan mengambil keputusan (decision maker) sangat dinilai dalam psychodrama. Pengajaran yang diperoleh dari training ini adalah kemampuan trainee memposisikan dirinya (flexibility) dalam menghadapi sebuah masalah dan kemampuan mengintegrasikan berbagai teori yang selama ini didapatkan dari kehiduan sehari-hari dengan kondisi nyata yang dihadapinya. Penerapan konsep ini sangat membutuhkan kerjasama dari semua pihak yang terlibat dan feedback dari trainee sebagai bentuk kooperatif dalam pelatihan tersebut. Dengan adanya kerjasama yang utuh, unsur-unsur emosional sekalipun akan dapat digali dari training ini dan menjadikan psychodrama sebagai sebuah metode training yang ideal.
Referensi Artikel:
1. United Nations Population Fund (DASECA) and Youth Peer Education Network (Y-PEER).2006.From Theory to Practice in Peer Educations.New York.Family Health International.p.19-22.
2. Howie,Peter.2008.The theory and practice of psychodrama, sociodrama, sociometry, role theory and group work. The Moreno Collegium-Core PsychodramaTraining Byron Bay.
3. Moreno,J.L.2002.What is Psychodrama?Australian and New Zealand Psychodrama Association Journal.ANZPA.Victoria-AUSTRALIA.
4. What is the difference between roleplaying and psychodrama? Available at http://thetrainingworld.com
SELUK BELUK SI PABRIK URINE

(Oleh: Desby Juananda, Mahasiswa Semester VI Fakultas Kedokteran USU)
Kelangsungan hidup manusia sangat bergantung kepada komponen terkecil dalam tubuh yaitu sel. Di dalam tubuh, sel dikelilingi oleh cairan internal tubuh yang asin atau yang biasa disebut cairan ekstrasel (CES). Untuk menjalankan fungsinya, sel mengadakan pertukaran zat (elektrolit) dengan cairan ekstrasel (CES) agar dapat bertahan hidup secara normal. Oleh karena itu, sel memerlukan suatu mekanisme yang dapat mempertahankan stabilitas volume dan komposisi CES yang dikenal dengan istilah homeostatis. Mekanisme ini dijalankan oleh ginjal, sepasang organ tubuh berbentuk kacang yang terletak di belakang rongga perut (abdomen). Setiap ginjal pada orang dewasa beratnya kira-kira 150 gram atau kira-kira seukuran kepalan tangan.
Secara umum, ginjal memiliki empat fungsi utama, yaitu: fungsi regulasi, fungsi ekskresi, fungsi hormonal, dan fungsi metabolisme. Sederhananya, Ginjal bekerja sebagai sebuah “saringan” yakni menyaring darah di dalam tubuh dan mengeluarkan zat dari hasil saringan (filtrat) tersebut dengan kecepatan tertentu melalui produksi urin. Dengan cara ini, ginjal mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit serta mengeluarkan berbagai zat sisa metabolisme yang toksik dan senyawa-senyawa asing dari tubuh. Ginjal juga memiliki berbagai fungsi penting, antara lain: mengatur keseimbangan asam dan basa, memelihara volume plasma untuk menjaga tekanan darah, mensekresikan hormon seperti eritropoetin yang berperan dalam pembentukan sel darah merah dan renin yang berperan dalam konservasi garam oleh ginjal serta mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya.
Yang paling berperan dalam menjalankan fungsi ginjal adalah nefron, satuan fungsional berukuran mikroskopik yang disatukan satu sama lain oleh jaringan ikat. Satuan fungsional yang dimaksud adalah satuan terkecil di dalam suatu organ yang mampu melaksanakan fungsi organ tersebut. Setiap ginjal terdiri dari sekitar satu juta nefron artinya ada dua juta satuan fungsional yang berperan menjalankan fungsi primer ginjal dalam tubuh manusia. Adapun fungsi primer ginjal adalah menghasilkan urine sebagai bentuk pertahanan terhadap stabilitas komposisi CES. Nefron terdiri dari dua daerah khusus, yaitu korteks ginjal, daerah sebelah luar yang tampak granuler dan medula ginjal, daerah bagian dalam yang berupa segitiga bergaris-garis (piramida ginjal). Setiap nefron terdiri dari dua komponen, yaitu komponen vaskuler dan komponen tubulus. Pada komponen vaskuler terdapat bagian yang paling dominan disebut dengan glomerulus. Glomerulus merupakan berkas kapiler berbentuk bola tempat filtrasi/saringan sebagian air dan zat terlarut dari darah yang melewatinya. Cairan yang sudah tersaring akan mengalir ke komponen tubulus nefron, mengalami berbagai modifikasi, antara lain penyerapan kembali (reabsorbsi) zat-zat yang masih bermanfaat bagi tubuh ke dalam pembuluh darah dan sekresi zat-zat tahap kedua dari darah. Sedangkan hasil dari rangkaian proses diatas adalah urine yang akan diekskresikan dari dalam tubuh. Dapat disimpulkan, ada 3 (tiga) proses dasar yang berperan dalam pembentukan urine, yaitu: filtrasi glomerulus, reabsorbsi tubulus, dan sekresi tubulus. Selanjutnya urine yang dihasilkan akan dikumpulkan di dalam pelvis ginjal dan diteruskan ke dalam ureter. Urine akan disimpan secara temporer pada kandung kemih (buli-buli) lalu secara berkala akan dibuang dari tubuh melalui uretra.
Mengingat besarnya peranan ginjal bagi homeostatis tubuh, kesehatan ginjal sangat penting untuk diperhatikan. Jika fungsi kedua ginjal terganggu sampai pada titik keduanya tidak mampu menjalankan fungsi regulatorik dan ekskretoriknya untuk mempertahankan homeostatis, dikatakan terjadi gagal ginjal (renal failure). Gagal ginjal dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar: (1) gagal ginjal akut, dimana seluruh atau hampir seluruh kerja ginjal tiba-tiba berhenti tetapi akhirnya membaik mendekati fungsi normal, dan (2) gagal ginjal kronis, di mana ginjal secara progresif kehilangan fungsi nefronnya satu persatu yang secara bertahap menurunkan seluruh fungsi ginjal. Gagal ginjal memiliki berbagai penyebab, yang sebagian terjadi di bagian tubuh lain dan mengenai ginjal secara sekunder. Penyebab-penyebab tersebut antara lain adalah: (1) organisme infeksius, baik yang bersifat hematogen atau masuk ke saluran kemih melalui uretra, (2) bahan toksik, misalnya timbal, arsen, pestisida, atau bahkan pemakaian aspirin dosis tinggi jangka panjang, (3) respon imun yang menyimpang, misalnya glomerulonefritis, yang kadang-kadang timbul setelah infeksi streptokokus di tenggorokkan, (4) hambatan aliran urine akibat adanya batu ginjal, tumor, atau pembesaran kelenjar prostat, dengan tekanan balik yang menurunkan filtrasi glomerulus dan merusak jaringan ginjal, (5) insufisiensi pasokan darah ginjal yang menyebabkan gangguan tekanan filtrasi. Yang terakhir ini dapat terjadi sekunder akibat gangguan sirkulasi, misalnya gagal ginjal, perdarahan, syok, atau penyempitan, dan pengerasan arteri-arteri ginjal akibat aterosklerois.
Akibat yang akan ditimbulkan oleh gagal ginjal tergantung pada kerusakannya. Pada gagal ginjal akut bersifat sedang, efek fisiologis utamanya adalah retensi darah dan cairan CES, produk buangan sisa metabolisme, dan elektrolit. Hal ini menyebabkan penumpukkan garam dan air yang berlebihan di dalam tubuh sehingga menimbulkan edema dan hipertensi. Bila gagal ginjal akut sangat parah, akan timbul anuria (berhentinya produksi urine) lengkap. Biasanya pasien akan meninggal dalam kurun waktu 8 sampai 14 hari jika fungsi ginjal tidak segera diperbaiki. Hal tersulit adalah pada kondisi gagal ginjal kronis, dimana kerusakan ginjal sering terjadi samar (insidious) sehingga gejala klinis yang serius seringkali tidak mucul sampai jumlah nefron fungsional berkurang sedikitnya 70 persen di bawah normal. Apabila ditemukan tanda-tanda dini kerusakan ginjal, seperti: mual dan muntah, malaise, anemia, edema, dan nyeri pada pinggang bagian belakang (tapping pain) segera kunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan fungsi ginjal.
Pemeriksaan urine (urinalisis) secara rutin sangat dianjurkan untuk mengetahui fungsi ginjal. Pemeriksaan urine melalui parameter fisik urine (warna, turbiditas, bau) dan parameter kimia (pH, Hb, glukosa, protein) merupakan pemeriksaan penunjang pada penyakit ginjal. Fungsi ginjal dapat diketahui melalui pemeriksaan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) dan konsep klirens ginjal. Manfaat klinis pemeriksaan LFG adalah: (1) deteksi dini kerusakan ginjal, (2) pemantauan profresifitas penyakit, (3) pemantauan kecukupan terapi ginjal pengganti, (4) membantu mengoptimalkan terapi dengan obat tertentu. Mengingat besarnya fungsi ginjal, menjaga kesehatan ginjal wajib dilakukan oleh siapa pun. Pemeriksaan fungsi ginjal secara dini dan berkelanjutan sangat membantu diagnosa dan terapi penyakit ginjal.
